Menyikapi Data Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan Tumbuh

Posted on

Menyikapi Data Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan Tumbuh - JualGudang

Bagaimana kondisi lapangan usaha transportasi dan pergudangan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)? Tumbuh 24,48% pada kuartal ketiga tahun ini.

Bagaimana menanggapi informasi semacam ini di tengah pandemi yang belum juga berakhir? Gembira? Biasa saja? Menyangkal?

Memang angka kenaikan itu tidak mencerminkan kondisi spesifik yang terjadi di industri logistik. Anda bisa berpikir negatif bahwa industri tetap mengalami kemunduran karena stok barang di gudang tidak bergerak.

Namun, Anda juga bisa bersyukur karena secara nasional, peningkatan berarti pada umumnya terjadi perubahan positif dalam sektor transportasi dan pergudangan.

Tentu jika mencari alasan untuk bersyukur, Anda pasti akan menemukannya. Begitu juga bila mencari dasar untuk mengeluh, juga tidak sulit mendapatkannya.

Lalu mana yang akan Anda pilih? Bersyukur atau bersungut-sungut?

Beberapa pernyataan berikut ini bisa Anda tanggapi dengan penuh rasa syukur atau pesimis:

Zaldy Ilham Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), menilai, pertumbuhan lapangan usaha pergudangan pada kuartal ketiga tahun ini bisa memperlihatkan dua hal. Pertama, pergerakan barang yang mulai aktif. Kondisi sebaliknya yakni kedua, daya beli yang masih lemah sehingga terjadi penumpukan barang di gudang.

Apa yang Anda temukan? Alasan untuk bersyukur karena pergerakan barang mulai aktif atau mengeluh karena ada penumpukan barang di gudang?

Fasilitas pergudangan di Indonesia memiliki daya tarik tersendiri ketimbang para kompetitor di negara lain seperti Singapura. Katalis pertumbuhan sektor pergudangan adalah kemudahan yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia di fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB), hingga tarif sewa gudang di Tanah Air yang relatif lebih murah ketimbang Singapura. “Sudah pasti (tarif sewa gudang) lebih mahal di Singapura, harga tanah dan biaya SDM kan beda jauh,” ungkap Zaldy.

Apa yang jadi kesimpulan Anda? Bersyukur karena dukungan pemerintah lewat PLB atau mengeluh karena kondisi tetap tidak seperti sebelum pandemi?

Pelaku industri seperti PT Kamadjaja Logistics juga berpendapat, tidak semua layanan pergudangan moncer. Kondisi industri pergudangan tahun ini tergantung pada sektor yang dilayani. “Seperti kami, untuk FMCG cenderung stabil sedangkan sektor elektronik ada penurunan,” ungkap Ivan Kamadjaja, Chief Executive Officer PT Kamadjaja Logistics.

Satu-satunya sektor bisnis yang melejit sebenarnya adalah e-commerce dengan pertumbuhan bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan dengan sebelum pandemi. Cuma, kontribusi sektor itu terhadap Kamadjaja Logistics terbilang kecil yakni di bawah 10%.

Bagi Anda apa lebih baik bersyukur karena pertumbuhan tiga kali lipat atau mengeluh karena kontribusi pertumbuhan itu tidak signifikan?

Erlin Budiman, Vice President of Investor Relations PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menyebutkan belum ada banyak perubahan di lini bisnis pergudangan. “Pergudangan sampai saat ini cukup stabil kinerjanya,” ucap dia.

Pilih mana, bersyukur karena kinerja pergudangan cukup stabil atau mengeluh karena belum banyak perubahan ke arah kemajuan?

 

Selamat memilih. Semoga Anda memilih mencari alasan untuk bersyukur di tengah pandemi.

Bukankah gudang Anda juga masih berfungsi, para pekerja masih sehat dan ada aktivitas bisnis yang menguntungkan meski tidak sebesar tahun lalu?

Jika Anda masih membaca artikel ini, lalu menimbang untuk membeli atau menyewa gudang, bukankah itu berarti alasan untuk bersyukur?

 

Simak juga:

7 Tips Menjaga Orang dan Barang di Gudang Saat Pandemi

Beli atau Sewa Gudang? Simak Panduan Ini untuk Menentukan Pilihan!

Optimalkan Penyimpanan Gudang Dengan 5 Tips Ini