Sektor perkopian Indonesia terus menunjukkan kinerja positif. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) optimistis ekspor kopi nasional akan terus tumbuh pesat sepanjang tahun 2024.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan signifikan pada ekspor kopi jenis arabika dan robusta hingga Agustus 2024. Kenaikan ini didorong oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah meningkatnya pasokan biji kopi akibat musim panen yang baik di berbagai daerah penghasil kopi.
“Kami melihat tren positif pada ekspor kopi Indonesia,” ujar Ketua Departemen Specialty & Industri BPP AEKI, Moelyono Soesilo. “Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar global terhadap kopi Indonesia masih sangat tinggi,” tambahnya.
Lonjakan Ekspor ke Eropa
Peningkatan ekspor kopi Indonesia juga didorong oleh antisipasi pelaku usaha terhadap berlakunya Undang-Undang Antideforestasi Uni Eropa (EUDR). Meskipun kebijakan ini ditunda setahun, namun peningkatan ekspor ke wilayah Eropa telah terjadi pada bulan Agustus dan September lalu.
“Para eksportir ingin memastikan pasokan kopi mereka tetap stabil di pasar Eropa,” jelas Moelyono.
Dominasi Kopi Robusta
Kopi robusta masih menjadi primadona ekspor Indonesia. Daerah penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia, seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung, menjadi kontributor utama dalam peningkatan ekspor kopi nasional.
Fokus Pasar Domestik
Meskipun ekspor terus tumbuh, para produsen kopi nasional tetap memprioritaskan pasar domestik. Permintaan kopi di dalam negeri yang cukup besar membuat produsen lebih memilih untuk memasok pasar lokal terlebih dahulu. Ekspor biasanya dilakukan ketika produksi melebihi permintaan domestik.
Penundaan EUDR Jadi Berkah
Penundaan kebijakan EUDR selama setahun dianggap sebagai angin segar bagi para eksportir kopi Indonesia. Kebijakan ini dinilai cukup kompleks dan menyulitkan banyak pelaku usaha. Dengan penundaan ini, para eksportir memiliki waktu yang lebih banyak untuk menyesuaikan diri dengan aturan baru tersebut.