Ancaman UU Anti Deforestasi Uni Eropa - The EdGe

Ancaman UU Anti Deforestasi Uni Eropa terhadap Ekspor Sawit Indonesia, Gapki Minta Penundaan Implementasi hingga 2026

Posted on

Rencana penerapan Undang-Undang Anti Deforestasi Uni Eropa (European Union Deforestation-free Regulation/EUDR) pada awal Januari 2025 menimbulkan kekhawatiran terhadap kinerja industri kelapa sawit Indonesia.

Regulasi ini, yang mencakup kelapa sawit, bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang masuk ke pasar Uni Eropa berasal dari sumber yang legal dan bebas deforestasi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengungkapkan bahwa petani kelapa sawit di Indonesia akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh regulasi ini. Produk-produk mereka berisiko tidak dapat dijual ke pasar ekspor, terutama ke Uni Eropa.

Gapki dan pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada Uni Eropa untuk menunda implementasi UU Anti Deforestasi hingga tahun 2026. Ini dilakukan agar para pelaku industri dan pemerintah memiliki waktu persiapan yang lebih panjang. Selain itu, upaya diplomasi terus dilakukan untuk memastikan regulasi tersebut tidak memberatkan Indonesia.

Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah membentuk joint task force dengan Komisi Uni Eropa sejak pertengahan 2023 untuk memperkuat kerja sama dan mencari solusi agar implementasi UU Anti Deforestasi tidak merugikan kedua negara.

Eddy menekankan bahwa UU ini berpotensi menggerus ekspor minyak kelapa sawit Indonesia, yang telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa turun dari 4,63 juta ton pada 2021 menjadi 3,7 juta ton pada 2023.

Gapki memprediksi penurunan lebih lanjut dalam ekspor minyak kelapa sawit Indonesia pada 2024, dengan proyeksi sekitar 30 juta ton. Hal ini didasarkan pada kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan, termasuk risiko perlambatan ekonomi di beberapa negara.

Meskipun China tetap menjadi tujuan ekspor terbesar bagi minyak kelapa sawit Indonesia, Gapki mencatat bahwa kondisi ekonomi global yang bergejolak, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa, dapat mempengaruhi permintaan ekspor kelapa sawit. Gapki mengingatkan bahwa kondisi ekonomi dari negara-negara pengimpor sangat memengaruhi kinerja ekspor kelapa sawit nasional.